Refleksi Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah: Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya

eb1dfff2-0226-4f32-93dd-8bd6cac09672
Bagikan Juga Ke

Oleh: Muhammad Fatkhul Hajri, S.Pd., M.Pd.
Kepala SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo
Wakil Ketua PC Pemuda Muhammadiyah Blimbing

Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah yang diperingati pada 2 Mei 2026 bukan sekadar penanda bertambahnya usia organisasi, melainkan momentum reflektif untuk membaca kembali arah perjalanan panjang gerakan kepemudaan Islam di Indonesia.

Sejak berdiri pada 2 Mei 1932 sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah menempatkan diri sebagai ruang kaderisasi yang menghimpun, membina, dan menggerakkan potensi pemuda Islam. Organisasi ini hadir untuk memperkuat peran kader dalam mewujudkan cita-cita Muhammadiyah sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara.

Perjalanan panjang tersebut tidak lahir dalam ruang hampa. Pemuda Muhammadiyah tumbuh bersama denyut sejarah bangsa yang penuh dinamika. Dalam berbagai momentum penting, mulai dari Kebangkitan Nasional, Proklamasi Kemerdekaan 1945, dinamika politik 1966, hingga Reformasi 1998, kaum muda selalu menjadi aktor utama perubahan. Dalam konteks itulah Pemuda Muhammadiyah menemukan relevansinya, bukan sekadar sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan yang menyatu dengan proses transformasi sosial bangsa.

Menapak Fase Kematangan, Menghadirkan Keteladanan

Memasuki usia ke-94, Pemuda Muhammadiyah berada pada fase kematangan. Organisasi ini bukan lagi mencari bentuk, melainkan telah menjadi kekuatan yang teruji oleh waktu. Kemampuannya menghadapi berbagai tantangan zaman menunjukkan karakter sebagai pejuang, penggerak, sekaligus pemenang.

Namun, kedewasaan justru menghadirkan tanggung jawab yang semakin besar. Tantangan hari ini tidak cukup dijawab dengan romantisme sejarah, melainkan membutuhkan keberanian untuk melangkah lebih progresif.

Tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” menjadi kunci dalam membaca arah gerakan Pemuda Muhammadiyah. Kata mengakar bukan sekadar metafora, tetapi penegasan bahwa organisasi harus tetap berpijak pada nilai-nilai fundamental, seperti integritas moral, etika publik, dan komitmen keumatan. Di tengah ruang publik yang kerap dipenuhi pragmatisme politik dan krisis keteladanan, akar nilai menjadi jangkar agar gerakan tidak kehilangan orientasi.

Sebaliknya, bertumbuh menuntut dinamika. Pertumbuhan tidak boleh berhenti pada aspek kuantitas, tetapi harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas kader. Hal tersebut tercermin dalam penguatan kapasitas intelektual, kemampuan beradaptasi terhadap disrupsi digital, serta keberanian melahirkan gagasan dan solusi kreatif. Pemuda Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir, tetapi harus memberi arti; tidak hanya aktif di internal organisasi, tetapi juga menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat.

Dalam lanskap kebangsaan yang semakin kompleks, ditandai oleh ketidakpastian geopolitik, krisis moral, dan ketimpangan sosial, peran pemuda menjadi semakin krusial. Persoalan bangsa merupakan rangkaian panjang yang tidak pernah benar-benar selesai. Oleh karena itu, Pemuda Muhammadiyah dituntut tidak sekadar bersikap reaktif, tetapi juga solutif. Organisasi ini harus hadir sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang mampu merumuskan arah perubahan.

Pepatah Arab menyebutkan, “Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.” Karena itu, kualitas pemuda saat ini akan menentukan wajah kepemimpinan bangsa pada masa mendatang. Pemuda Muhammadiyah harus mempersiapkan hal tersebut melalui penguatan internalisasi nilai sekaligus peningkatan kualitas eksternalisasi gerakan. Kolaborasi lintas sektor, penguatan pelayanan publik, transformasi digital, hingga tata kelola organisasi yang modern menjadi sebuah keniscayaan.

Pemuda Negarawan sebagai Solusi Bangsa

Melalui kerja kolektif dan kepemimpinan profetik, kader Pemuda Muhammadiyah diharapkan mampu menghadirkan gagasan alternatif, membangun dialog yang rasional, serta berkontribusi dalam perumusan kebijakan publik yang berkeadilan. Dalam kerangka itulah gagasan Pemuda Negarawan menjadi semakin relevan.

Pemuda negarawan adalah mereka yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Berlandaskan empat pilar utama—keilmuan, politik kebangsaan, kemandirian, dan kewirausahaan sosial—mereka diharapkan mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan bangsa. Mereka tidak hanya bersikap reaktif, tetapi juga aspiratif, transformatif, dan visioner.

Pemuda negarawan bukanlah mereka yang pandai memainkan kekuasaan, melainkan mereka yang mampu berpikir jauh ke depan, berpegang teguh pada nilai, serta setia memperjuangkan kepentingan rakyat. Pemuda Muhammadiyah harus mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus tangguh secara moral.

Karena itu, Pemuda Muhammadiyah sebagai gerakan harus tetap menjaga jarak struktural dari kekuasaan agar daya kritisnya tidak terkooptasi oleh kepentingan politik jangka pendek. Independensi organisasi merupakan fondasi moral yang memungkinkan Pemuda Muhammadiyah tetap menjadi pressure group yang bebas menyampaikan kritik serta konsisten berpihak kepada kepentingan rakyat tanpa beban loyalitas ganda.

Lebih berbahaya lagi apabila organisasi ini hanya dijadikan kendaraan untuk mengejar jabatan atau menjadi makelar politik transaksional. Pemuda Muhammadiyah bukan batu loncatan bagi kepentingan pribadi maupun kelompok. Organisasi ini adalah sekolah kepemimpinan yang mendidik kader agar memiliki integritas, idealisme, serta keberanian memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.

Sebagai gerakan independen, Pemuda Muhammadiyah tidak berafiliasi dengan partai politik maupun tunduk pada kepentingan politik praktis. Organisasi ini memiliki rumah sendiri. Prinsip tersebut harus dijaga secara sungguh-sungguh, terutama oleh kader yang kini berada di ruang-ruang kebijakan. Independensi merupakan benteng terakhir agar gerakan tidak dijinakkan oleh kepentingan politik praktis.

Namun demikian, independensi bukan berarti menjauh dari politik. Sebaliknya, independensi memberikan kebebasan moral untuk bersuara dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Sikap independen bukanlah bentuk apatisme, melainkan komitmen untuk terus mengawal setiap kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat dan negara.

Hal ini sejalan dengan poin pertama Pedoman Kehidupan dalam Berbangsa dan Bernegara dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang menegaskan bahwa warga Muhammadiyah tidak boleh bersikap apatis terhadap kehidupan politik. Partisipasi politik harus dilakukan melalui berbagai saluran secara positif dengan menjunjung tinggi etika dan akhlak Islam demi terwujudnya masyarakat utama yang diridai Allah Swt.

Bahaya laten yang patut diwaspadai adalah ketika loyalitas kader terbelah: satu kaki berada di gerakan, sementara kaki lainnya berada di partai politik atau lingkaran kekuasaan. Jika kondisi ini tidak dikawal, Pemuda Muhammadiyah berpotensi kehilangan daya kritisnya dan hanya menjadi penonton dalam panggung kekuasaan yang dahulu ingin diubahnya. Akibatnya, orientasi gerakan menjadi kabur—kritis di internal, tetapi lunak di eksternal. Inilah yang harus dicegah sejak dini.

Sebagai bagian dari civil society, Pemuda Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam relasinya dengan negara. Pemerintah merupakan mitra dalam pembangunan, tetapi sekaligus objek kritik yang harus terus dikawal. Dalam posisi tersebut, Pemuda Muhammadiyah dituntut menghadirkan solusi jangka panjang yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar memberikan respons sesaat terhadap gejala di permukaan.

Milad ke-94: Momentum Meneguhkan Arah Gerakan

Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah bukanlah sekadar perayaan tahunan. Momentum ini menjadi penegasan arah bahwa perjalanan panjang organisasi harus terus dilanjutkan dengan kesadaran baru: mengakar kuat pada nilai sekaligus melesat jauh dalam karya. Dari kader, untuk umat, demi Indonesia yang berkemajuan.

Pertanyaan reflektif pun kembali mengemuka: Sudah sejauh mana kita memberi arti? Sebab, usia 94 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut makna tentang bagaimana api Persyarikatan terus dinyalakan, nalar kritis terus dirawat, dan keberanian terus dihadirkan dalam setiap langkah perjuangan.

Sembilan puluh empat tahun perjalanan Pemuda Muhammadiyah telah melahirkan jejak, karya, dan pengabdian yang panjang. Perjalanan itu harus terus dilanjutkan dengan semangat yang sama: bertumbuh, mengakar, dan berdampak untuk Indonesia Jaya. Kita boleh bertumbuh, tetapi jangan pernah kehilangan akar. Jangan hanya ramai di dalam organisasi, tetapi sepi manfaat di tengah masyarakat.

Selamat Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah. Fastabiqul khairat!


Bagikan Juga Ke