Menjadi Pelajar Muhammadiyah yang Berilmu, Berakhlak, dan Menebar Manfaat

d9a8100c-ebbf-46d7-ac8e-584ec6370937
Bagikan Juga Ke

Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd.
Guru PAI SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo, Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing

Sebagai seorang muslim, terlebih sebagai pelajar Muhammadiyah, kita memiliki amanah besar untuk senantiasa fokus dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Ilmu yang diperoleh bukan sekadar untuk diketahui, tetapi harus menjadi bekal yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Karena itu, jangan pernah berputus asa dalam belajar. Di mana pun dan kapan pun, tetaplah belajar. Selama Allah Swt. masih memberikan kesempatan di usia muda untuk menuntut ilmu, manfaatkanlah sebaik-baiknya. Bentengi diri dengan ilmu agar tidak mudah terbawa arus negatif yang semakin deras di era digital.

Islam tidak melarang menggunakan media sosial. Namun, sebagai seorang muslim kita harus bijak dalam bermedia sosial. Teknologi merupakan salah satu nikmat yang Allah Swt. titipkan kepada kita dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, renungkanlah, untuk apa nikmat tersebut kita gunakan? Apakah untuk menyebarkan kebaikan atau justru sebaliknya?

Selain semangat belajar, pelajar Muhammadiyah juga hendaknya menjauhi segala sesuatu yang kurang, bahkan tidak bermanfaat, karena hal itu hanya akan merusak diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Rasulullah ﷺ bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
(HR. Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al-Albani menyatakan hadis ini shahih)

Karena itu, pelajar Muhammadiyah hendaknya memiliki kesadaran untuk menyukai berbagai aktivitas yang bermanfaat. Sebaliknya, segala sesuatu yang sia-sia sebaiknya ditinggalkan. Salah satu tanda baiknya seorang pelajar Muhammadiyah adalah melaksanakan seluruh kewajiban sebagai seorang muslim dan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang baik) adalah yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)

Maksud “lisannya tidak menyakiti orang lain” ialah tidak digunakan untuk mengejek, mencela, menggunjing (ghibah), mengumpat, berkata kasar, ataupun mengucapkan kata-kata yang melukai hati dan perasaan orang lain. Sikap ini harus dijaga, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, termasuk saat bermain gim daring (online game).

Adapun yang dimaksud dengan “tangannya tidak menyakiti orang lain” adalah tidak melakukan perbuatan yang menyakiti sesama. Misalnya, memukul teman, mengejek dengan menirukan kekurangan fisik, cara berpakaian, atau tindakan lain yang menyakiti, baik secara fisik maupun batin. Termasuk di dalamnya adalah berbagai bentuk perusakan, anarkisme, vandalisme, dan tindakan serupa.

Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang merugi sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ,

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta benda.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Akan tetapi, ketika di dunia ia pernah mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain secara zalim. Lalu pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum seluruh hak mereka ditunaikan, dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim)

Perbuatan-perbuatan tersebut merupakan bentuk kezaliman yang tidak mendatangkan manfaat sedikit pun. Dalam kehidupan saat ini, tindakan seperti itu dikenal dengan istilah bullying. Islam sangat tegas melarang segala bentuk kezaliman. Allah Swt. dan Rasul-Nya memberikan banyak peringatan tentang larangan tersebut. Di antaranya sabda Nabi ﷺ,

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi.”
(HR. Muslim no. 2577)

Bahkan, doa orang yang dizalimi sangat mustajab di sisi Allah Swt. Rasulullah ﷺ bersabda,

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari no. 2448 dan no. 1496, serta Muslim no. 19)

Bagi yang menjadi korban kezaliman, jangan terpancing membalas dengan kezaliman yang sama. Bersabarlah dan berdoalah kepada Allah Swt. Adapun bagi yang berbuat zalim, hendaknya segera bertobat dan berhati-hati, karena doa orang yang dizalimi adalah doa yang mustajab.

Marilah kita berlomba-lomba dalam beramal saleh dan menebarkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Tumbuhkan citra baik sebagai pelajar Muhammadiyah dengan menunjukkan akhlak seorang muslim sejati.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebaikan.”

Wallāhu waliyyut-taufīq.


Bagikan Juga Ke