Usia Dini, Antara Orang Tua dan Anak

2b87686b-98be-459b-a1eb-81b9201c8ae8
Bagikan Juga Ke

Oleh: Ulfa Sularsih, S.Pd.
Guru BA ‘Aisyiyah Mranggen
Sekretaris PD Nasyiatul ‘Aisyiyah Sukoharjo

Anak adalah anugerah terindah bagi setiap keluarga. Kehadirannya mampu mewarnai dan menyejukkan suasana rumah tangga. Ia merupakan titipan terindah dari Allah Swt. yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Saat Allah Swt. menitipkan seorang anak kepada sebuah keluarga, saat itu pula Allah Swt. percaya bahwa keluarga tersebut mampu mengemban amanah itu.

Bukan berarti keluarga yang belum memiliki anak tidak mampu mengemban amanah. Allah Swt. lebih mengetahui waktu yang tepat bagi setiap hamba-Nya untuk menerima amanah tersebut. Amanah itu bukan sekadar sebuah titipan, melainkan seorang makhluk kecil yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab keluarga hingga kelak ia dewasa dan mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Sebagaimana setiap orang tua memiliki hak untuk memiliki anak, mereka juga mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan ketika amanah itu dipercayakan kepada mereka. Kewajiban tersebut meliputi membimbing anak, mengenalkan tauhid, mengagungkan Allah Yang Maha Esa, mengenalkan ajaran Islam, serta memberikan pondasi yang kuat dalam menjalani kehidupan. Orang tua juga berkewajiban mengenalkan dunia beserta isinya sekaligus mengenalkan kehidupan akhirat yang kekal.

Selain itu, orang tua berkewajiban memenuhi seluruh kebutuhan anak, bukan hanya kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan psikologis. Mereka harus menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pertumbuhan fisik maupun psikis anak, serta memberikan pendidikan agama dan pendidikan umum sebagai bekal masa depannya.

Dalam proses pendidikan anak usia dini, peran seorang ibu sangatlah penting sebagai madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak. Ibu menjadi tempat berbagi cerita, tempat bertanya, sekaligus sumber belajar pertama sepanjang apa yang ingin diketahui anak. Bahkan, tidak sedikit ibu yang kewalahan menjawab berbagai pertanyaan anak karena rasa ingin tahunya yang begitu tinggi. Keingintahuan inilah yang mendorong anak untuk terus bertanya dan belajar setiap hari.

Usia Dini

Usia 0–6 tahun merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Masa ini dikenal dengan istilah golden age atau masa emas. Pada periode inilah seluruh aspek perkembangan anak mencapai puncaknya. Banyak peneliti berpendapat bahwa usia dini merupakan masa emas bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Masa ketika seluruh organ tubuh berkembang dengan sangat pesat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita sebagai orang tua untuk memberikan rangsangan atau stimulasi agar tumbuh kembang anak usia dini berlangsung secara optimal. Setiap bayi memiliki miliaran sel otak yang siap menerima rangsangan. Sentuhan kasih sayang dan lingkungan yang ramah otak merupakan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi otak anak.

Seluruh sel otak memiliki peran penting dalam menunjang fungsi otak sebagai pusat pengatur seluruh kemampuan manusia ketika dewasa. Meskipun jumlahnya mencapai miliaran, tidak semua sel otak berkembang secara optimal karena sangat bergantung pada stimulasi yang diterimanya.

Anak sangat cepat menyerap informasi yang diperoleh dari orang-orang di sekitarnya. Tidak berlebihan jika anak usia dini disebut sebagai “plagiator ulung”. Saat bersosialisasi dengan orang lain, mereka akan meniru apa yang dilihat dan didengar. Karena itu, tidak mengherankan apabila anak lebih cepat menghafal lirik lagu dibandingkan orang dewasa.

Demikian pula dengan hafalan Al-Qur’an. Bagi anak usia dini, menghafal Al-Qur’an akan lebih mudah apabila lantunan ayat-ayat suci sering diperdengarkan kepadanya. Menurut Maxwell Maltz, apabila manusia mampu mengaktifkan sekitar tujuh persen saja dari sel otaknya, gambaran kecerdasannya sangat luar biasa. Ia dapat menguasai 12 bahasa dunia, memiliki lima gelar kesarjanaan, bahkan mampu menghafal ensiklopedia lembar demi lembar.

Di Indonesia, banyak lembaga yang menawarkan layanan pendidikan anak usia dini (PAUD). Jumlahnya bahkan lebih banyak dibandingkan sekolah dasar maupun sekolah lanjutan. Persamaan gender menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Pada era sekarang, semakin banyak perempuan yang meniti karier seiring meningkatnya kebutuhan ekonomi keluarga. Peran mencari nafkah pun tidak lagi hanya dilakukan oleh laki-laki.

Tidak sedikit ibu yang akhirnya menitipkan buah hatinya kepada lembaga pendidikan meskipun usia anak masih sangat kecil. Di kota-kota besar, keberadaan daycare atau taman penitipan anak semakin menjamur. Hal ini terjadi karena kebutuhan masyarakat untuk menitipkan anak semakin tinggi. Banyak lembaga pendidikan menangkap peluang tersebut dengan menyediakan layanan penitipan anak, bahkan hingga sistem full day.

Tentu bukan sesuatu yang buruk apabila anak berada di tempat penitipan. Namun, tidak baik pula apabila anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Padahal, pada usia ini faktor keluarga, terutama ayah dan ibu, sangat menentukan proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

Segala sesuatu tentu memiliki sisi positif dan negatif. Saat berada di lembaga pendidikan, anak dapat berinteraksi dengan teman-teman yang beragam. Hal ini memberikan manfaat berupa kemampuan bersosialisasi, melatih adaptasi terhadap lingkungan baru, memperkaya kosakata, serta mengenal banyak pengalaman baru. Namun, di sisi lain, anak dapat kehilangan banyak waktu bersama keluarga sehingga kedekatan emosional dengan ayah dan ibu menjadi berkurang.

Persaingan Akademis di Lembaga Pendidikan

Rasa bahagia saat pertama kali memiliki anak perlahan mulai berubah ketika anak memasuki usia sekolah. Perasaan itu berganti menjadi rasa cemas. “Apakah anakku akan menjadi anak yang pintar, biasa saja, atau bahkan dianggap bodoh?” “Apakah ia akan menjadi juara kelas, bintang kelas, atau justru menjadi anak yang minder?” “Bagaimana jika aku diejek karena memiliki anak yang tidak berprestasi?”

Ketakutan orang tua semakin besar ketika melihat anak lain memenangkan berbagai perlombaan, menjadi juara kelas, pandai melukis, mahir bermain bola, atau meraih prestasi lainnya. Memiliki banyak piala yang dipajang di rumah menjadi impian banyak orang tua. Mereka merasa bangga dan memperoleh kepuasan tersendiri ketika anak berhasil meraih berbagai prestasi.

Oleh sebab itu, sejak usia dini, sebagian orang tua mulai menetapkan berbagai target prestasi yang harus dicapai anak demi memenuhi ambisi mereka sendiri.

Keinginan tersebut mendorong orang tua bekerja semakin keras agar anak menjadi seperti yang mereka harapkan. Anak diikutkan bimbingan belajar, les privat musik, les membaca, berhitung, dan berbagai kegiatan lainnya. Semua dilakukan demi memenuhi keinginan orang tua agar anak menjadi pintar dan berprestasi.

Target membaca, berhitung, bermain musik, hingga olahraga terus diberikan agar anak memperoleh hasil yang maksimal. Bahkan, terkadang orang tua lupa bertanya kepada anak, “Apakah kamu menikmati semua ini? Apakah kamu merasa nyaman?” Pada beberapa kasus, justru ada anak yang mengalami tekanan bahkan depresi karena terlalu banyak mengikuti les maupun bimbingan belajar.

Tanpa disadari, sebagai orang tua kita terkadang telah melakukan bentuk kekerasan terhadap anak. Memang bukan kekerasan fisik, tetapi pemaksaan agar anak selalu menjadi pribadi yang berprestasi juga termasuk bentuk kekerasan psikis. Oleh karena itu, edukasi mengenai pola asuh anak usia dini perlu terus dikampanyekan agar semakin banyak orang tua menyadari dampak dari pola pengasuhan yang kurang tepat.

Sebagai orang tua, kita harus mampu bersikap bijaksana. Prestasi bukanlah harga mati bagi anak-anak kita. Prestasi memang penting, tetapi kenyamanan dan kebahagiaan anak jauh lebih berharga.

Masa golden age anak seyogianya diisi dengan berbagai kegiatan belajar yang menyenangkan. Namun, kita harus selalu mengingat bahwa karakteristik anak usia dini adalah belajar melalui bermain. Mereka bukan miniatur orang dewasa yang setiap hari belajar dengan pencil and paper. Mereka belajar sambil bermain, bereksplorasi, dan mengenal lingkungan di sekitarnya.

Prestasi bukan hanya sekadar nilai akademis. Menjadi anak yang sopan, santun, berakhlak mulia, serta taat beribadah juga merupakan prestasi yang layak diapresiasi oleh setiap orang tua.


Bagikan Juga Ke