Pemimpin Bertauhid yang Merakyat dan Bermusyawarah

952ce3ed-9f79-4507-948f-3ba156a427c4
Bagikan Juga Ke

Oleh: Ulfa Sularsih, S.Pd.
Sekretaris PD Nasyiatul ‘Aisyiyah Sukoharjo

Menjalani hidup bersama dengan banyak orang tentu membutuhkan sosok pemimpin. Sosok yang mampu mengatur agar setiap urusan dalam kehidupan bersama menjadi lebih tertata dan memiliki arah tujuan yang jelas. Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, ada sosok ayah sebagai kepala keluarga yang memimpin dan mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Meskipun demikian, bukan berarti seluruh keputusan mutlak berada di tangan seorang ayah. Tetap ada musyawarah bersama ibu dan anak-anak sebagai bagian dari kehidupan keluarga yang harmonis.

Naik satu tingkat di atas keluarga, kehidupan bermasyarakat pun membutuhkan seorang pemimpin. Hidup bertetangga dengan banyak kepala keluarga yang tinggal berdekatan tentu tidak lepas dari berbagai kepentingan yang saling bersinggungan. Dapat dibayangkan jika tidak ada sosok pemimpin di tengah masyarakat, tentu akan muncul banyak gesekan. Oleh karena itu, ada Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Ketua Rukun Warga (RW) yang bertugas mengatur jalannya kehidupan bermasyarakat. Keduanya menjadi pemangku kebijakan yang keputusan-keputusannya ditaati dan dilaksanakan oleh warga.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tidak diperkenankan bagi tiga orang yang berada di padang luas melainkan mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” (HR. Ahmad)

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia tidak diperbolehkan hidup tanpa seorang pemimpin. Meskipun hanya terdiri atas tiga orang yang hidup bersama, tetap dianjurkan untuk mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin. Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya kepemimpinan agar kehidupan dapat berjalan secara teratur, terarah, dan memiliki tujuan yang jelas.

Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sosok pemimpin selalu menjadi sorotan masyarakat. Terlebih ketika negara akan melaksanakan pesta demokrasi untuk memilih para pemimpin yang akan mengatur kehidupan bermasyarakat. Lantas, seperti apakah sosok pemimpin yang ideal?

Pemimpin yang Merakyat

Seperti apakah definisi pemimpin yang merakyat? Sebelum membahasnya, ada baiknya kita menyimak kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Siapa yang tidak mengenal Al-Faruq, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu? Beliau dikenal sebagai pemimpin yang tegas, zuhud, sekaligus sangat dekat dengan rakyat.

Rabi’ bin Ziyad al-Haritsi pernah menceritakan sekelumit kisah tentang beliau. Pada awalnya, Rabi’ hanyalah seorang utusan yang diutus menghadap Umar radhiallahu ‘anhu. Dalam perjalanannya, ia sangat mengagumi kepribadian sang khalifah.

Suatu ketika, Rabi’ mengadukan rasa tidak nyaman yang ia rasakan karena harus mengonsumsi makanan sederhana seperti yang biasa dimakan Umar radhiallahu ‘anhu. Ia berkata kepada beliau,

“Wahai Amirul Mukminin, sungguh orang yang paling pantas mendapatkan makanan yang enak, pakaian yang lembut, serta kendaraan yang nyaman adalah engkau.”

Saat itu Umar radhiallahu ‘anhu sedang duduk sambil memegang sebatang pelepah kurma. Beliau kemudian memukul Rabi’ secara perlahan dengan pelepah tersebut seraya berkata,

“Demi Allah, aku melakukan ini agar engkau merasa dekat denganku, sebab aku melihat banyak kebaikan dalam dirimu. Ketahuilah, perumpamaan antara aku dan rakyatku seperti sekelompok orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Mereka mempercayakan urusan bekal mereka kepada salah seorang di antara mereka. Jika orang yang diberi amanah itu lebih mengutamakan dirinya sendiri daripada mereka, apakah itu benar?”

Rabi’ pun menjawab,

“Tentu tidak.”

Sungguh luar biasa keteladanan yang ditunjukkan oleh seorang khalifah seperti Umar radhiallahu ‘anhu. Inilah hakikat pemimpin yang merakyat. Tidak banyak mengumbar janji, tetapi nyata dalam tindakan. Beliau memakan makanan yang sama dengan rakyatnya, bukan menikmati kemewahan yang berbeda dari apa yang dirasakan oleh masyarakat.

Bandingkan dengan kondisi yang banyak kita saksikan hari ini. Tidak sedikit pemimpin yang justru mempertontonkan kemewahan melalui kendaraan, tempat tinggal, gaya hidup, hingga cara berpakaian. Dengan segala kemewahan itu mereka berusaha menunjukkan kedekatan dengan rakyat melalui kunjungan ke pelosok desa, berbaur dengan masyarakat kecil, lalu mengunggahnya ke media sosial. Seolah-olah itulah gambaran pemimpin yang merakyat.

Padahal, pemimpin yang merakyat bukanlah mereka yang sibuk membangun pencitraan melalui blusukan atau swafoto bersama masyarakat. Merakyat berarti berpikir dan bertindak untuk kepentingan rakyat. Pemimpin yang mampu menghadirkan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, bukan sekadar mengejar popularitas.

Pemimpin yang Bermusyawarah

Gemar bermusyawarah merupakan salah satu nilai yang senantiasa dipegang oleh Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Beliau tidak pernah memosisikan dirinya sebagai penguasa yang paling benar. Sebaliknya, beliau merasa memiliki kedudukan yang sama dengan anggota musyawarah lainnya.

Dalam setiap urusan, beliau selalu meminta pendapat sebelum mengambil keputusan. Beliau tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya adalah pemegang kekuasaan yang dapat bertindak semena-mena. Umar radhiallahu ‘anhu justru menanamkan keyakinan bahwa rakyatnya adalah guru yang dapat menunjukkan jalan kebaikan dan menyelamatkannya dari beratnya hisab di akhirat kelak. Maasyaa Allah. Beliau meyakini bahwa pendapat yang disampaikan rakyat dalam musyawarah akan semakin memperjelas kebenaran.

Sungguh sebuah teladan yang luar biasa. Andai setiap pemimpin di berbagai negara mampu bersikap seperti Umar radhiallahu ‘anhu, niscaya rakyat akan mencintai dan menghormati pemimpinnya.

Namun, sudahkah kita memiliki pemimpin seperti itu? Ironisnya, saat ini banyak pemimpin yang tidak lagi meminta pendapat rakyat sebelum menyusun sebuah kebijakan. Proses penyusunan kebijakan sering kali tidak melibatkan partisipasi masyarakat sehingga banyak kebijakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Bahkan, tidak sedikit kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu dan justru merugikan masyarakat luas.

Sering kali rakyat baru mengetahui adanya suatu kebijakan ketika mereka dianggap melanggarnya. Sungguh menyedihkan. Lebih ironis lagi, ketika rakyat menyampaikan penolakan, kekuasaan justru digunakan untuk membungkam suara mereka.

Seandainya teladan Umar radhiallahu ‘anhu yang gemar bermusyawarah diterapkan pada masa sekarang, hubungan antara pemimpin dan rakyat tentu akan semakin dekat. Kedekatan itu akan melahirkan rasa saling percaya dan menghadirkan kedamaian yang begitu indah.

Pemimpin yang Mengutamakan Tauhid

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pernah mencopot Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu dari jabatannya sebagai panglima perang. Menurut pendapat yang masyhur, keputusan tersebut dilakukan demi menjaga kemurnian tauhid.

Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu adalah panglima perang yang sangat luar biasa. Beliau tidak pernah mengalami kekalahan, baik sebelum maupun sesudah memeluk Islam. Sejak diangkat menjadi panglima pada masa Khalifah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, setiap peperangan yang dipimpinnya selalu berakhir dengan kemenangan.

Lama-kelamaan muncul keyakinan di tengah kaum muslimin,

“Jika panglimanya Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, maka pasti akan menang.”

Bahkan, sebagian kaum muslimin mulai menganggap bahwa Khalid radhiallahu ‘anhu adalah penyebab kemenangan itu sendiri. Mereka menyandarkan harapan sepenuhnya kepada Khalid radhiallahu ‘anhu dan mulai lalai memohon pertolongan kepada Allah ﷻ.

Melihat fenomena tersebut, Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu memutuskan untuk mengganti panglima perangnya. Beliau memahami bahwa tauhid jauh lebih utama daripada segala-galanya. Bukan berarti beliau menginginkan kaum muslimin mengalami kekalahan, melainkan agar umat memahami bahwa kemenangan datang semata-mata dari Allah ﷻ, bukan karena kehebatan seorang manusia.

Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

“Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah atau karena dia berkhianat. Akan tetapi, manusia telah terfitnah, dan aku ingin mereka mengetahui bahwa Allah-lah yang memberikan kemenangan.”

Tauhid berarti memurnikan keesaan Allah ﷻ dan menyandarkan seluruh urusan hanya kepada-Nya, bukan kepada makhluk. Maasyaa Allah, sungguh indah dan luar biasa teladan yang diberikan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu.

Semoga para pemimpin kita mampu meneladani berbagai kebaikan yang ada pada diri Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu: menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat, gemar bermusyawarah, serta mendasarkan seluruh kepemimpinannya di atas tauhid yang murni kepada Allah ﷻ semata.

Wallahu a’lam.


Bagikan Juga Ke