Menyampaikan Kebenaran dengan Hikmah dalam Dakwah

11eeae8f-f418-4a1f-b1ec-8e35ed64ec79
Bagikan Juga Ke

Belum lama ini beredar sebuah berita di media sosial tentang seorang ustaz yang dikritik oleh sebagian warganet setelah menyampaikan tausiyah dalam sebuah acara pernikahan artis. Ia dinilai menyinggung hal-hal yang dianggap sensitif. Memang, banyak orang yang tidak mendengarkan keseluruhan isi tausiyah tersebut. Yang beredar hanyalah beberapa potongan poin yang kemudian menjadi bahan perbincangan.

Namun, jika dicermati, apa yang disampaikan sang ustaz sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh. Justru sangat wajar apabila seorang dai mengingatkan tentang perkara yang benar dan yang salah. Bukankah tugas seorang ustaz memang menyampaikan kebenaran, mengajak kepada yang makruf, serta mencegah dari yang mungkar?

Dalam praktik dakwah, sering kali seorang dai dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Ada kalanya ia diundang untuk mengisi tausiyah pada sebuah acara, sementara di acara tersebut terdapat hal-hal yang secara syariat tidak dibenarkan dan dilakukan secara terang-terangan. Dalam kondisi seperti ini, tentu muncul pilihan: diam demi menjaga perasaan, atau menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun.

Apabila diberi amanah untuk berbicara, maka yang lebih tepat adalah tetap menyampaikan apa yang benar. Tentu dengan bahasa yang baik, santun, penuh hikmah, serta tetap menjaga adab kepada tuan rumah. Bahkan, tidak mengapa jika disertai permohonan maaf sebagai bentuk penghormatan kepada pihak yang mengundang. Namun, rasa sungkan tidak boleh menghalangi seseorang untuk menyampaikan nasihat yang memang menjadi bagian dari tanggung jawab dakwah.

Dakwah Bukan Sekadar Menyenangkan Pendengar

Sebagian orang mungkin memilih menghindari undangan ketika mengetahui akan ada kemungkaran yang terjadi di dalamnya. Sikap seperti ini tentu memiliki pertimbangannya masing-masing. Namun, jika seseorang tetap hadir dan diberi kesempatan untuk berbicara, maka menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik justru menjadi kesempatan untuk menunaikan amanah dakwah.

Lebih baik menyampaikan nasihat secara langsung kepada yang berkepentingan daripada hanya menjadi bahan pembicaraan di belakang. Dakwah sejatinya bukan bertujuan mencari popularitas atau menjaga agar tetap disukai semua orang. Bisa jadi, setelah menyampaikan kebenaran, seseorang tidak lagi diundang pada acara-acara berikutnya. Namun, hal itu bukanlah persoalan selama yang disampaikan adalah kebenaran dan dilakukan dengan adab yang baik.

Allah Ta’ala berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl [16]: 125)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, kelembutan, dan cara yang terbaik. Akan tetapi, hikmah bukan berarti menghilangkan kebenaran, melainkan menyampaikan kebenaran dengan metode yang tepat sehingga lebih mudah diterima.

Mengatakan yang Benar Walaupun Pahit

Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan agar seorang Muslim berani mengatakan yang benar meskipun terasa berat. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Beliau memerintahkanku untuk mengatakan yang benar walaupun itu pahit.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa kebenaran memang tidak selalu menyenangkan untuk didengar. Adakalanya nasihat terasa pahit karena bertentangan dengan kebiasaan atau hawa nafsu. Namun, kepahitan itulah yang justru menjadi obat apabila diterima dengan hati yang lapang.

Karena itu, seorang dai hendaknya tidak takut menyampaikan kebenaran hanya karena khawatir kehilangan simpati atau undangan. Sebaliknya, ia juga tidak boleh menjadikan dakwah sebagai sarana untuk menyakiti atau mempermalukan orang lain. Kebenaran harus tetap disampaikan, tetapi dengan hikmah, kelembutan, kasih sayang, serta niat yang ikhlas agar manusia semakin dekat kepada Allah, bukan semakin menjauh dari agama.

Pada akhirnya, tugas seorang dai adalah menyampaikan. Adapun hidayah dan diterima atau tidaknya nasihat tersebut adalah hak Allah semata. Yang terpenting, amanah dakwah telah ditunaikan dengan cara yang benar, santun, dan sesuai tuntunan syariat. Wallahu a’lam bish-shawab.


Bagikan Juga Ke