Pengajian Rutin UMKLA Bedah MKCH, Perkuat Ideologi Muhammadiyah di Kalangan Civitas Akademika

WhatsApp Image 2026-09-11 at 08.35.57
Bagikan Juga Ke

KLATEN — Ratusan dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Klaten (UMKLA) mengikuti Pengajian Rutin UMKLA dengan materi Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Jumat (11/9/2026) pagi. Kegiatan yang berlangsung di Ruang B.14 kampus UMKLA itu menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman ideologi Muhammadiyah sekaligus meneguhkan komitmen civitas akademika dalam menjalankan pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai Islam.

Diawali dengan tilawah Al-Qur’an bersama-sama, pengajian yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti dosen dan karyawan dari berbagai fakultas. Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten Ustadz Drs. KH. Agus Krisnadi hadir sebagai pemateri dan mengajak seluruh pegawai memahami dasar perjuangan Muhammadiyah.

Menurut Agus, pemahaman terhadap MKCHM penting bagi warga Muhammadiyah, termasuk mereka yang bekerja di lingkungan amal usaha pendidikan. Pemahaman tersebut menjadi landasan agar aktivitas pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga berjalan sesuai dengan nilai dan cita-cita Muhammadiyah.

Memahami Dasar Perjuangan Muhammadiyah

Dalam pemaparannya, Agus menjelaskan sejarah pembentukan MKCHM yang tidak terlepas dari semangat tajdid atau pembaharuan dalam Muhammadiyah. Rumusan MKCHM berawal dari Muktamar ke-37 Muhammadiyah pada 1968 di Yogyakarta.

Selanjutnya, rumusan tersebut dimatangkan melalui Tanwir Ponorogo pada 1969. Pimpinan Pusat Muhammadiyah kemudian menyempurnakannya pada 1970.

Agus menerangkan, MKCHM memuat lima poin utama yang dapat dikelompokkan dalam tiga bagian besar. Ketiganya meliputi aspek ideologis, paham agama, serta fungsi dan misi Muhammadiyah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Muhammadiyah adalah gerakan berasas Islam yang bercita-cita mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya untuk melaksanakan fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi,” tegas Agus di hadapan jamaah.

Penjelasan tersebut menempatkan MKCHM bukan sekadar rumusan organisasi. Sebaliknya, MKCHM menjadi pedoman untuk memahami arah perjuangan Muhammadiyah dan bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Beragama Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa pengamalan ajaran Islam dalam Muhammadiyah berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah Sahih. Dalam memahami persoalan keagamaan, Muhammadiyah juga memfungsikan akal pikiran secara jernih melalui metode ijtihad jama’i atau ijtihad secara kolektif.

Pemahaman keagamaan tersebut mencakup sejumlah bidang kehidupan. Dalam bidang aqidah, umat diarahkan untuk menjaga kemurnian tauhid dari kemusyrikan dan khurafat.

Sementara itu, aspek akhlak menekankan pentingnya membangun perilaku mulia. Dalam bidang ibadah, umat menjalankan amalan sesuai tuntunan Rasulullah SAW, sedangkan muamalah duniawiyah mengatur bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

Dengan demikian, penguatan ideologi Muhammadiyah tidak berhenti pada pemahaman konsep. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui perilaku, pelayanan, dan aktivitas nyata dalam kehidupan, termasuk di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Mendorong Kontribusi Sosial dan Kebangsaan

Pengajian Rutin UMKLA juga mengangkat dimensi sosial dan kebangsaan dalam perjuangan Muhammadiyah. Civitas akademika diajak melihat peran Muhammadiyah yang tidak hanya berkaitan dengan kehidupan internal organisasi, tetapi juga dengan kontribusi bagi bangsa.

Muhammadiyah secara konsisten mendorong seluruh elemen bangsa untuk mengoptimalkan potensi Indonesia. Upaya tersebut diarahkan untuk membangun kehidupan berbangsa yang adil, makmur, dan diridai Allah SWT.

Dalam konteks tersebut, Pancasila menjadi bagian penting dalam kehidupan bernegara. Muhammadiyah mendorong terwujudnya kehidupan kebangsaan yang membawa masyarakat menuju kondisi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Bagi civitas akademika UMKLA, penguatan pemahaman MKCHM diharapkan menjadi pijakan dalam menjalankan tugas masing-masing. Dosen dan karyawan tidak hanya menjalankan fungsi profesional, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam lingkungan pendidikan.

Melalui Pengajian Rutin UMKLA, pemahaman tentang MKCHM kembali diteguhkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ideologi Muhammadiyah. Dari ruang pendidikan, nilai-nilai tersebut diharapkan terus tumbuh menjadi semangat untuk memberikan pelayanan terbaik bagi umat, masyarakat, dan bangsa.


Bagikan Juga Ke