Dari Pembangunan Dakwah hingga Jati Diri Mubaligh, KMM Blimbing Perkuat Gerakan Pasca-Ramadan

WhatsApp Image 2026-04-02 at 07.57.59
Bagikan Juga Ke

MRANGGEN — Semangat dakwah pasca-Ramadan menguat dalam kegiatan Halal Bihalal dan Pembekalan Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Blimbing yang digelar di Masjid Baitul Ghofur, Mranggen, Polokarto, Sukoharjo, Rabu malam (1/4/2026).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum konsolidasi dakwah, penguatan ideologi, serta pemaparan progres pembangunan fisik umat di tingkat ranting.

Gedung Dakwah Capai 80 Persen
Ketua Takmir Masjid Baitul Ghofur sekaligus Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mranggen, Mahfudi, mengungkapkan bahwa pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah di wilayahnya telah mencapai 80 persen.

Gedung tersebut diharapkan menjadi pusat kegiatan umat yang lebih representatif sekaligus simbol kemajuan syiar Islam di Cabang Blimbing.

“Semoga setelah Ramadan ini kita semakin giat berdakwah. Pembangunan gedung dakwah ini harus kita tuntaskan bersama,” ujarnya.

Selain itu, takmir masjid juga tengah merencanakan pembebasan lahan untuk lokasi penyembelihan hewan qurban sebagai bagian dari penguatan fungsi sosial masjid.

Menelusuri Sejarah Halalbihalal
Dalam sesi pembekalan, Ketua Majelis Tabligh PCM Blimbing, Sarwanto, S.Ag., mengulas sejarah panjang tradisi halalbihalal yang berakar kuat di wilayah Solo Raya.

Ia menyebutkan bahwa tradisi ini memiliki beberapa versi, mulai dari era Mangkunegaran tahun 1757, hingga dokumentasi Majalah Suara Muhammadiyah sejak 1924 yang menekankan pentingnya silaturahmi untuk persatuan bangsa.

Tradisi tersebut kemudian berkembang luas di masyarakat, termasuk di kawasan Sriwedari, sebelum akhirnya diangkat ke tingkat nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1948 atas saran ulama NU, Wahab Hasbullah.

“Halalbihalal bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki nilai persatuan yang kuat,” jelas Sarwanto.

Tamsil Kaum Saba: Peringatan untuk Generasi Muda
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Sukoharjo, Wiwaha Aji Santosa, memberikan pembekalan ideologis dengan mengangkat kisah kaum Saba dalam Al-Qur’an.

Ia mengingatkan bahwa kehancuran suatu bangsa dapat terjadi ketika masyarakatnya, terutama generasi muda, meninggalkan nilai agama dan jati diri.

“Bangsa bisa runtuh jika generasi mudanya mengabaikan aturan Allah. Dakwah harus dimulai dari keluarga,” tegasnya.

Sorotan Krisis Generasi Muda
Wiwaha juga menyoroti kondisi generasi muda saat ini. Berdasarkan data terbaru, sekitar 2 juta dari 20 juta remaja Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, sementara tingkat kebugaran fisik masih rendah.

Hal ini, menurutnya, menjadi tantangan serius bagi para mubaligh untuk menghadirkan dakwah yang solutif dan relevan.

“Fisik anak muda kita masih lemah. Padahal mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keteladanan dai senior agar generasi muda tetap istiqamah dan tidak mudah terpengaruh oleh budaya luar.

Dakwah Keluarga sebagai Kunci
Sebagai solusi, dakwah berbasis keluarga ditekankan sebagai fondasi utama dalam membangun generasi yang kuat secara spiritual, mental, dan fisik.

Materi ketahanan keluarga kini menjadi bagian penting yang harus dikuasai para mubaligh agar mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat, mulai dari krisis mental hingga degradasi moral.

Kegiatan ini ditutup dengan ikrar halalbihalal yang diikuti seluruh peserta, memperkuat ukhuwah sekaligus meneguhkan komitmen dakwah pasca-Ramadan.


Bagikan Juga Ke