SUKOHARJO – Tidak semua luka meneteskan darah, dan tidak semua rasa sakit terlihat oleh mata. Menyadari rentannya kesehatan mental di masa remaja, MTs Muhammadiyah Tawangsari bergerak cepat membekali para siswanya lewat agenda Penyuluhan Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) pada Rabu (12/8/2026).
Berlangsung hangat dan penuh energi di Aula Muh. Darwis sejak pukul 09.00 hingga 11.30 WIB, acara ini menghadirkan tiga pakar dari Puskesmas Tawangsari sebagai narasumber utama. Puluhan siswa kelas VIII yang hadir tampak begitu fokus menyerap materi, diajak berinteraksi aktif, hingga mencair dalam sesi ice breaking yang seru.
Bukan sekadar ceramah satu arah, pelatihan ini dirancang interaktif agar para siswa benar-benar paham cara merespons saat teman sebaya mereka sedang tidak baik-baik saja.
Wakil Kepala MTs M Tawangsari Bidang Kesiswaan, Satrio Aji, S.Pd., menegaskan bahwa emosi remaja yang bergejolak sering kali menutupi luka psikologis yang sebenarnya membutuhkan pertolongan mendesak.
”Penyuluhan kesehatan tentang Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) adalah ilmu yang sangat penting dan bermanfaat diajarkan pada siswa karena seringkali di usia remaja dengan segala dinamika perkembangannya, luka psikologis belum disadari dan dipahami ketika ada teman sebaya di sekolah yang mengalami. Oleh karena itu diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini anak-anak terlatih untuk mengenali gejala-gejalanya dan menjadi first-aider dalam penanganan luka psikologis pada teman di sekitarnya,” jelas Satrio Aji.
Dampak positifnya pun langsung dirasakan oleh peserta. Raya Zalfa Ratu Hidayat, siswi kelas VIII A, mengaku mendapatkan sudut pandang baru yang sangat relevan dengan keseharian mereka di sekolah.
”Saya dapat ilmu yang bermanfaat banget buat menolong teman yang lagi mengalami masalah psikologis,” tutur Raya dengan penuh semangat.
Melalui langkah inovatif ini, MTs Muhammadiyah Tawangsari tak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga membentuk ekosistem sekolah yang empati, peduli, dan siap menjadi tempat aman bagi satu sama lain.
Kontributor: Janan Qoni’ah