KLATEN — Muhammadiyah membuktikan peran strategisnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui pendekatan dakwah kultural dan aksi nyata di tengah masyarakat. Semangat yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut menjadi pilar utama keterlibatan aktif persyarikatan dalam memajukan kemanusiaan, mulai dari lingkungan kampus hingga kancah internasional.
Hal tersebut ditegaskan dalam Pengajian Rutin Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah Klaten (UMKLA) yang berlangsung di Masjid Al-Mu’afah UMKLA, Klaten, Jumat (25/9/2026) mulai pukul 08.00 WIB. Acara ini menghadirkan penceramah Ust. H. Drs. Fathurrahman, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Klaten, serta dihadiri oleh ratusan dosen dan karyawan dari berbagai fakultas.
Dakwah Bil Hal dan Peran Nyata Amal Usaha
Dalam ceramahnya, Ust. H. Drs. Fathurrahman menyampaikan bahwa KH Ahmad Dahlan mengawali dakwah dari hal-hal konkret yang mudah terlihat, seperti kepedulian terhadap kaum mustadzafin, pendidikan, dan pengorbanan harta benda. Menurutnya, dakwah kultural Muhammadiyah bukan sekadar lisan atau ucapan, melainkan dakwah bil hal melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Amal Usaha Muhammadiyah adalah bukti dakwah bil hal, bukan sekadar omon-omon. Kita mengambil peran nyata di masyarakat sebagaimana KH Ahmad Dahlan menegakkan Surah Al-Ma’un. Lewat bidang dan spesialisasi masing-masing di kampus ini, kita ajak masyarakat ke jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik,” ujar Fathurrahman di hadapan ratusan jamaah.
Ia juga menambahkan bahwa kontribusi nyata Muhammadiyah telah mendapat pengakuan internasional, salah satunya melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau MDMC yang aktif dalam penanganan bencana dan misi kemanusiaan di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina.
Keseimbangan Ibadah Mahdah dan Kesalehan Sosial
Lebih lanjut, Fathurrahman menekankan pentingnya komitmen integritas serta disiplin bagi para akademisi dan pegawai AUM. Jamaah diajak untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) serta menyelaraskan antara ibadah mahdah dan kesalehan sosial.
Pengawasan Allah yang tiada terbatas hendaknya menjadi dorongan untuk terus melakukan evaluasi diri dan perencanaan masa depan. Keseimbangan antara pilar vertikal (hubungan dengan Allah) dan pilar horizontal (hubungan dengan sesama manusia) menjadi fondasi utama akhlak seorang muslim.
“Jangan sampai jenjang akademis kita di kampus naik, tetapi hubungan di keluarga dan masyarakat justru tidak baik. Indahnya Islam harus terlihat dari akhlak kita masing-masing. Jangan sampai keindahan Islam tertutupi oleh perilaku orang Islam itu sendiri (al-Islamu mahjubun bil muslimin),” tegas Fathurrahman.
Menjadi Mercusuar Kebaikan
Melalui penguatan nilai-nilai kepemimpinan dan ketaatan terhadap pimpinan PDM, UMKLA diharapkan mampu menjadi teladan dan contoh kebaikan bagi lingkungan sekitar. Pengajian rutin ini ditutup dengan doa bersama agar seluruh sivitas akademika UMKLA dapat membawa manfaat luas bagi kampus, keluarga, dan masyarakat.
Melalui konsistensi dakwah perbuatan ini, UMKLA optimistis dapat terus memancarkan nilai-nilai keislaman yang mencerahkan dan menjadi mercusuar kebaikan di Kabupaten Klaten serta Indonesia.