Oleh: Komandan Daerah Sukoharjo
Enam dekade lebih satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi kesiapsiagaan seperti KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah). Sejak lahir pada tahun 1965, KOKAM telah melewati berbagai fragmen sejarah Indonesia. Memasuki usia ke-61 pada tahun 2026 ini, tantangan KOKAM telah bertransformasi jauh. Di tengah dinamika sosial-politik dan disrupsi global, KOKAM memikul tanggung jawab yang lebih besar: menjadi perekat persatuan demi membangun peradaban bangsa melalui narasi Islam Berkemajuan.
Peradaban sebuah bangsa tidak diukur hanya dari megahnya infrastruktur fisik. Peradaban sejati dinilai dari tingginya etika publik, kokohnya rasa kemanusiaan, dan yang paling utama adalah persatuan yang otentik di tengah keragaman. Bagi Muhammadiyah, persatuan bukanlah keseragaman yang dipaksakan, melainkan harmoni kolektif untuk memajukan bangsa.
Jika kita membedah sejarah, kata kunci dari tegaknya peradaban suatu bangsa selalu terletak pada kualitas pendidikannya. Peradaban mulia, tidak akan pernah hadir dari masyarakat yang abai terhadap ilmu. Disinilah relevansi gerakan Islam berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah menemukan bentuk nyata. Islam berkemajuan mengamanatkan bahwa memajukan bangsa harus dimulai dari mencerahkan akal budi dan meninggikan derajat intelektual warganya.
Pendidikan sebagai Fondasi Persatuan Hakiki
Mengapa pendidikan menjadi kunci persatuan? Karena musuh terbesar dari persatuan adalah kebodohan, kefanatikan buta, dan kedangkalan berpikir. Polarisasi sosial, hoaks, dan gesekan horizontal yang kerap melanda bangsa ini sering kali berakar dari rendahnya literasi.
Di sinilah KOKAM harus mengambil peran strategis. KOKAM tidak boleh lagi dipandang sebatas pasukan fisik berbaju loreng. Anggota KOKAM harus menjadi agen-agen pendidikan publik. Persatuan yang otentik hanya bisa dirawat ketika masyarakat dididik untuk saling menghormati perbedaan melalui nalar yang sehat. Ketika KOKAM bergerak dalam trilogi pelayanannya—Kemanusiaan, Kebencanaan, dan Ekologi—setiap aksi lapangan tersebut harus mengandung nilai edukasi yang menyatukan seluruh elemen bangsa tanpa memandang sekat suku maupun agama.
Sejarah mencatat bahwa sebuah peradaban besar tidak pernah tegak di atas pondasi ingar-bingar fisik semata. Kata kunci dari kemuliaan suatu bangsa selalu berakar pada kualitas pendidikannya. Meminjam spirit Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, memajukan bangsa harus dimulai dengan membebaskan akal budi dari keterbelakangan melalui ilmu pengetahuan. Bagi KOKAM khususnya Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, refleksi 61 tahun ini menjadi momentum krusial untuk melompat dari kesiapsiagaan fisik menuju kesiapsiagaan intelektual.
Memasuki tahun 2026, wajah ancaman terhadap persatuan bangsa telah berubah. Ancaman terbesar bukan lagi agresi fisik, melainkan radikalisme digital, adu domba di media sosial, dan politik kriminalisasi yang sempit.
Islam Berkemajuan sebagai Narasi Persatuan
Sebagai sayap pemuda Muhammadiyah, KOKAM adalah aktor lapangan yang mengaplikasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Islam Berkemajuan menuntut umat untuk menatap masa depan dengan optimisme, rasionalitas, dan keterbukaan. Di era di mana polarisasi, hoaks, dan ego kelompok sering kali mengancam integrasi nasional, KOKAM harus hadir sebagai jawaban atas krisis kerukunan.
Persatuan yang dibawa oleh KOKAM adalah persatuan yang aktif dan fungsional, yang diterjemahkan melalui trilogi pelayanannya: Kemanusiaan, Kebencanaan, dan Ekologi.
- Persatuan dalam Kemanusiaan: Saat menolong sesama, KOKAM tidak pernah bertanya apa sukumu, apa agamamu, atau apa pilihan politikmu. Ketika bencana melanda atau ketika hak-hak kaum lemah (mustadh’afin) terinjak, KOKAM hadir untuk semua. Inilah inklusivitas Islam Berkemajuan secara nyata.
- Merawat Ekosistem Bangsa: Menjaga alam dan lingkungan hidup adalah ikhtiar bersama yang melintasi sekat-sekat perbedaan. Persatuan bangsa akan rapuh jika ruang hidup dan ekologinya rusak.
Kesiapsiagaan Peradaban: Menghalau Polarisasi Moderen
Ketika melihat pasukan KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) berbaris, pandangan awam sering kali terpaku pada seragam lorengnya. Gagah, tegas, dan selalu siap mengawal fisik. Namun, menatap KOKAM di usianya yang menginjak 61 tahun ini, reduksi makna seperti itu tidak boleh lagi dibiarkan. Di tengah kompleksitas transisi sosial, digital, dan politik hari ini, baret dan seragam loreng KOKAM harus dimaknai melampaui sekadar simbol keamanan. Loreng KOKAM adalah manifestasi dari kesiapan jiwa untuk terjun dalam jihad peradaban, di mana medan tempur utamanya saat ini bukan lagi agresi fisik, melainkan pendidikan dan persatuan.
Oleh karena itu, KOKAM perlu meredefinisi arti “kesiapsiagaan”. Anggota KOKAM tidak hanya dituntut gagah berani di lapangan, tetapi juga harus tajam secara intelektual. KOKAM harus menjadi pelopor literasi digital yang menyejukkan, penjaga nalar sehat publik, dan benteng yang menghalau segala bentuk narasi perpecahan. Kesiapsiagaan peradaban berarti kesiapan menjaga agar tenun kebangsaan Indonesia tidak terkoyak oleh kedangkalan berpikir.
Penutup: Komitmen Kebangsaan KOKAM
Milad ke-61 ini adalah momentum penting bagi KOKAM untuk menegaskan kembali posisinya sebagai titik temu (kalimatun sawa) di tengah keberagaman Indonesia. KOKAM bukan sekadar pasukan berbaju loreng, melainkan manifestasi dari dakwah kultural yang mencerahkan dan menyatukan.
Dengan memegang teguh khittah Muhammadiyah, KOKAM berkomitmen untuk terus berdiri di garda terdepan dalam merawat persatuan. Sebab, tidak ada peradaban besar yang lahir dari bangsa yang terpecah-belah. Selamat Milad ke-61 KOKAM. Teruslah tegap menjaga semesta, ikhlas mengabdi demi kejayaan peradaban bangsa