Tak Hanya Pendampingan Hukum, Busyro Muqoddas Tawarkan Pemulihan Psikologis bagi Santri Hamalatul Qur’an

WhatsApp Image 2026-11-01 at 20.44.08
Bagikan Juga Ke

SUKOHARJO, 1 November 2026 – Perhatian terhadap kondisi psikologis santri menjadi salah satu hal penting pascaperistiwa penggerebekan di Ma’had Hamalatul Qur’an, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Tidak hanya menawarkan pendampingan hukum, Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., salah satu Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, juga menawarkan pendampingan dan pemulihan psikologis bagi para santri yang terdampak peristiwa tersebut.

Tawaran itu disampaikan ketika Busyro mengunjungi Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an pada Minggu sore (1/11/2026).

Dukungan tersebut menjadi perhatian tersendiri karena dampak sebuah peristiwa yang melibatkan lingkungan pendidikan tidak selalu berhenti pada persoalan hukum. Kondisi emosional, rasa aman, dan pemulihan psikologis anak-anak juga perlu mendapatkan perhatian serius.

Muhammadiyah Tawarkan Pendampingan Psikologis

Dalam kunjungannya, Busyro menawarkan dukungan pendampingan psikologis dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki Muhammadiyah.

Sebagai organisasi Islam yang memiliki jaringan layanan kesehatan dan pendidikan tinggi, Muhammadiyah mempunyai rumah sakit serta perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan di bidang psikologi.

Potensi tersebut membuka peluang kolaborasi untuk menghadirkan tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam pendampingan psikologis, khususnya bagi santri yang membutuhkan dukungan pemulihan pascaperistiwa.

Pendekatan ini penting agar kondisi psikologis santri dapat diperhatikan secara tepat, tanpa memberikan tekanan tambahan ataupun memaksa mereka untuk menceritakan kembali pengalaman yang mungkin masih membekas.

Pemulihan Psikologis Anak Tidak Boleh Diabaikan

Peristiwa yang melibatkan anak-anak dan lingkungan pendidikan perlu ditangani dengan pendekatan yang memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

Dalam situasi yang berpotensi menimbulkan tekanan emosional, pendampingan psikologis dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan santri, membangun kembali rasa aman, serta memberikan dukungan sesuai kondisi masing-masing individu.

Pemulihan juga tidak cukup hanya dilakukan melalui satu kali pertemuan. Apabila ditemukan santri yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, diperlukan pendampingan profesional secara bertahap dengan tetap memperhatikan privasi dan kenyamanan mereka.

Karena itu, tawaran dukungan dari Muhammadiyah menjadi peluang penting untuk menghadirkan pendekatan pemulihan yang lebih komprehensif.

Muhammadiyah Memiliki Ekosistem Pendidikan dan Kesehatan

Dukungan yang ditawarkan Busyro Muqoddas memiliki landasan kelembagaan yang cukup kuat.

Muhammadiyah selama ini mengembangkan berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Jaringan rumah sakit serta perguruan tinggi Muhammadiyah menjadi sumber daya yang berpotensi mendukung program pendampingan tersebut.

Dengan melibatkan tenaga profesional di bidang psikologi dan kesehatan, proses pemulihan diharapkan tidak hanya memberikan dukungan emosional sementara, tetapi juga membantu santri kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan rasa aman dan kepercayaan diri.

Meski demikian, bentuk pelaksanaan, tenaga pendamping, serta mekanisme program pemulihan masih perlu dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak pesantren.

Menjaga Pesantren sebagai Ruang Aman bagi Anak

Tawaran pendampingan psikologis tersebut memberikan pesan bahwa perlindungan terhadap pesantren tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan dan hukum, tetapi juga menyangkut manusia yang berada di dalamnya.

Santri merupakan anak-anak yang sedang menjalani proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan kepribadian. Karena itu, rasa aman dan kesehatan psikologis mereka merupakan bagian penting dari keberlangsungan pendidikan.

Kehadiran dukungan Muhammadiyah diharapkan dapat membantu Ponpes Hamalatul Qur’an menjalani proses pemulihan, sekaligus memastikan para santri memperoleh perhatian dan pendampingan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, pemulihan bukan sekadar mengembalikan aktivitas pesantren seperti sediakala, melainkan memastikan setiap santri dapat kembali belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa dibayangi rasa takut. (Ahimza)


Bagikan Juga Ke