KBIH Armina Bekali Calon Jamaah Haji dengan Praktik Ihram dan Persiapan Kesehatan

image
Bagikan Juga Ke

Hj. Siti Rochmijatun, M.Ag., dan H. Aris Rakhmadi, M.Eng.

Manasik Memasuki Pertemuan Ketujuh, Jamaah Kembali Memantapkan Doa dan Fikih Haji

Pembinaan manasik haji KBIH Armina Sukoharjo memasuki pertemuan ketujuh yang dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 1 Sukoharjo. Kegiatan diikuti oleh 82 calon jamaah haji yang berasal dari beberapa kecamatan. Memasuki tahap ini, pembimbing kembali memantapkan kesiapan jamaah melalui pembelajaran doa-doa haji dan fikih haji sebagai bekal sebelum menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Sesi pertama berlangsung pukul 06.00–07.00 dengan materi doa-doa yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji. Kegiatan diawali dengan talbiyah yang dilafalkan bersama, kemudian dilanjutkan dengan refleksi dan pengulangan doa-doa yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Pembimbing kembali mengulas doa thawaf, kemudian melanjutkannya dengan doa-doa yang dibaca ketika melaksanakan sa’i, mulai dari doa ketika akan memulai sa’i di Bukit Shafa hingga rangkaian doa ketika menuju Marwah.

Pembelajaran tidak berhenti pada hafalan bacaan. Pembimbing juga memberikan penjelasan mengenai makna doa serta konteks tempat dan rangkaian ibadah yang menyertainya. Jamaah diperkenalkan kembali dengan sejumlah lokasi penting di sekitar Masjidil Haram yang berkaitan dengan pelaksanaan thawaf dan sa’i, sehingga bacaan yang dipelajari tidak hanya diingat secara lisan, tetapi juga dipahami hubungannya dengan tahapan ibadah yang akan dilakukan.

Untuk membantu jamaah semakin terbiasa, beberapa doa dilafalkan secara bersama-sama dan diulang beberapa kali. Pada kesempatan tertentu, jamaah juga diberi kesempatan melafalkan sendiri bacaan yang telah dipelajari. Meskipun sebagian jamaah masih tampak kaku dalam melafalkan beberapa doa, pengulangan secara bertahap membantu jamaah menjadi semakin familiar dengan bacaan tersebut. Pola pembelajaran ini sekaligus menjadi bagian dari upaya KBIH Armina membekali jamaah agar mampu menjalankan ibadah haji dan umrah secara lebih mandiri.

Foto 1. Narasumber menyampaikan materi doa-doa haji pada sesi pertama manasik di hadapan para jamaah.

Foto 2. Para jamaah mengikuti sesi pembelajaran dengan antusias.

Persiapan Kesehatan Menjadi Bagian Penting Sebelum Berangkat ke Tanah Suci

Selain pembekalan ibadah, kesiapan kesehatan menjadi bagian penting dalam persiapan calon jamaah haji. Dalam kegiatan manasik tersebut, pihak Puskesmas Sukoharjo memberikan sosialisasi mengenai pemeriksaan kesehatan jamaah yang dijadwalkan pada hari Rabu dan Kamis sesuai dengan wilayah kelurahan masing-masing. Pemeriksaan dilakukan dengan melibatkan tenaga kesehatan dari beberapa unsur, termasuk Lakesda dan Budi Sehat. Dalam kegiatan tersebut turut disampaikan informasi oleh dr. Dina dan dr. Ana Aulia yang juga menjadi tenaga kesehatan haji tahun ini.

Pihak puskesmas menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan berkaitan dengan istithaah kesehatan, yaitu kondisi kesehatan yang memungkinkan calon jamaah menjalankan ibadah haji dengan aman dan mampu beraktivitas sesuai kebutuhan selama berada di Tanah Suci. Tujuan pemeriksaan bukan semata-mata menentukan apakah seorang jamaah dapat berangkat atau tidak, tetapi memastikan kondisi kesehatan jamaah telah diketahui dan kebutuhan pendukungnya dapat dipersiapkan. Bagi jamaah yang memiliki keterbatasan tertentu, misalnya membutuhkan obat, alat bantu, atau pendamping, kondisi tersebut perlu dipastikan sejak sebelum keberangkatan.

Dalam sosialisasi tersebut dijelaskan beberapa kondisi istithaah kesehatan. Pertama, istithaah murni, yaitu kondisi jamaah yang secara fisik dan mental dalam keadaan baik serta mampu menjalankan aktivitas tanpa ketergantungan pada obat atau alat bantu tertentu. Kedua, istithaah dengan pendampingan, yaitu jamaah yang masih mampu menjalankan ibadah tetapi membutuhkan pendamping karena faktor usia lanjut atau adanya penurunan kemampuan fisik.

Ketiga, terdapat istithaah dengan pendampingan obat, yaitu jamaah yang dalam kesehariannya membutuhkan obat untuk mengendalikan kondisi kesehatan tertentu, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, atau diabetes. Penggunaan obat tersebut telah menjadi bagian dari catatan pemeriksaan kesehatan jamaah. Keempat, tidak memenuhi syarat istithaah sementara, misalnya ketika jamaah mengalami penyakit infeksi yang masih memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Dalam kondisi tertentu, keberangkatan dapat ditunda sampai kondisi kesehatannya memungkinkan.

Sementara itu, kondisi kelima adalah tidak istithaah, yaitu ketika calon jamaah memiliki kondisi kesehatan berat yang dinilai tidak memungkinkan untuk menjalankan ibadah haji. Contohnya antara lain penyakit jantung koroner, tekanan darah yang terus tinggi, penyakit menular aktif, atau kondisi diabetes yang berat. Untuk kondisi tertentu, jamaah dapat dirujuk ke rumah sakit dan penilaian istithaah selanjutnya ditentukan melalui pemeriksaan oleh pihak yang berwenang.

Melalui sosialisasi tersebut, jamaah diingatkan bahwa persiapan menuju Tanah Suci tidak hanya berkaitan dengan kesiapan ibadah, tetapi juga kondisi fisik dan mental. Dengan pemeriksaan yang dilakukan sejak sebelum keberangkatan, diharapkan setiap jamaah dapat memahami kondisi kesehatannya masing-masing dan mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan untuk menjalankan ibadah haji dengan lebih aman dan nyaman.

Bukan Sekadar Teori, Jamaah Dilatih Memakai Ihram dengan Aman

Memasuki sesi berikutnya, pembinaan manasik tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi. Pembimbing KBIH Armina, H. Sukamdi, mengajak calon jamaah untuk memahami secara langsung cara mengenakan kain ihram dengan praktis, rapi, dan aman. Praktik ini penting agar jamaah dapat menjaga kain ihram tetap pada tempatnya sekaligus meminimalkan kemungkinan terbukanya aurat secara tidak sengaja selama melaksanakan ibadah.

Dalam peragaan tersebut, pembimbing menunjukkan teknik mengenakan kain ihram yang tetap aman ketika jamaah melakukan berbagai aktivitas, termasuk berjalan, thawaf, duduk, maupun jongkok. Jamaah juga diberikan pemahaman mengenai kondisi penggunaan ihram ketika melaksanakan thawaf, saat bahu kanan dibuka, serta ketika kedua bahu harus kembali tertutup. Teknik penggunaan kain ihram juga diarahkan agar tetap nyaman dan tidak mudah terlepas ketika digunakan dalam berbagai gerakan.

Pembimbing mengingatkan jamaah untuk tidak mengenakan kain ihram dengan cara seperti memakai sarung. Cara tersebut dinilai kurang aman karena kain lebih mudah bergeser sehingga berpotensi menyebabkan aurat terlihat ketika jamaah melangkah, duduk, atau jongkok. Karena itu, teknik pemakaian yang tepat perlu dipahami dan dilatih sebelum jamaah berada di Tanah Suci.

Setelah pembimbing selesai memperagakan teknik pemakaian ihram, calon jamaah diberikan kesempatan untuk mencoba secara langsung. Praktik tersebut menjadi bagian evaluasi untuk melihat sejauh mana jamaah memahami penjelasan yang telah diberikan sekaligus membiasakan mereka melakukan sendiri apa yang sebelumnya hanya dilihat dari peragaan pembimbing.

Dari praktik tersebut terlihat bahwa kemampuan mengenakan ihram tidak cukup hanya dipahami melalui penjelasan. Jamaah perlu mengulanginya secara mandiri di rumah agar semakin terbiasa dan mahir. Pendekatan praktik seperti ini menjadi bagian dari upaya KBIH Armina untuk memberikan pembekalan yang aplikatif, sehingga jamaah tidak hanya mengetahui tata cara ibadah secara teori, tetapi juga memiliki kesiapan untuk mempraktikkannya ketika berada di Tanah Suci.

Foto 3. Pembimbing KBIH Armina memperagakan cara mengenakan kain ihram putra dari tampak samping.

Foto 4. Pembimbing KBIH Armina memperagakan cara mengenakan kain ihram putra dari tampak depan.

Mendorong Jamaah Mandiri dalam Menjalankan Ibadah Haji

Rangkaian pembinaan pada pertemuan ketujuh menunjukkan bahwa persiapan calon jamaah haji tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui pengulangan, praktik, dan pembekalan yang menyentuh berbagai aspek kebutuhan jamaah. Doa-doa yang terus diulang, penjelasan mengenai fikih haji, pemeriksaan kesehatan, hingga praktik mengenakan kain ihram menjadi bagian yang saling melengkapi dalam mempersiapkan jamaah menghadapi pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.

Di samping pembekalan ibadah dan kesehatan, jamaah juga kembali mendapatkan informasi mengenai berbagai kelengkapan administrasi yang perlu dipersiapkan. H. Sukamdi menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan calon jamaah, termasuk paspor dan berbagai kebutuhan administrasi lainnya. Dalam sesi tanya jawab, jamaah yang belum memiliki paspor atau paspornya telah kedaluwarsa diarahkan untuk mengurusnya secara mandiri melalui kantor imigrasi. Sementara itu, untuk urusan visa, prosesnya akan ditangani oleh Kementerian Haji dan Umrah.

Bagi jamaah yang merencanakan proses pelimpahan atau penggabungan, juga disampaikan imbauan agar sekaligus mengikuti pemeriksaan kesehatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan agar kondisi kesehatan jamaah dapat diketahui dan dipertimbangkan sejak awal.

Seluruh rangkaian pembinaan tersebut pada akhirnya diarahkan pada satu tujuan penting, yaitu membangun kesiapan dan kemandirian jamaah dalam menjalankan ibadah haji. Jamaah tidak hanya diharapkan mampu menghafalkan doa atau memahami materi manasik, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan, mampu mempraktikkannya, serta memahami kondisi diri dan kebutuhan yang harus dipersiapkan sebelum berangkat.

Dengan pembinaan yang dilakukan secara bertahap dan berulang, KBIH Armina Sukoharjo berupaya mengantarkan calon jamaah agar semakin siap menghadapi berbagai situasi selama pelaksanaan ibadah haji. Kemandirian tersebut dibangun melalui proses belajar yang tidak berhenti pada teori, tetapi dilanjutkan dengan latihan dan pengalaman praktik, sehingga jamaah memiliki bekal yang lebih memadai ketika tiba waktunya melaksanakan ibadah di Tanah Suci.

“Bekal terbaik menuju Tanah Suci bukan hanya hafalnya doa, tetapi kesiapan untuk memahami, mempraktikkan, dan menjalankan setiap ibadah dengan mandiri.”


Bagikan Juga Ke