Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan: Warisan Pendidikan ‘Aisyiyah untuk Mewujudkan Perdamaian

FULL-COLOR_LOGO-MILAD-KE-109-AISYIYAH-01-scaled
Bagikan Juga Ke

Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah (19 Mei 1917–19 Mei 2026)

MU’TAMAROH KURNIANINGSIH, S.E.
Anggota Majelis Pembinaan Kader (MPK) Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Blimbing, Sukoharjo

Di belakang para tokoh besar yang kita kenal, hampir selalu ada dua perempuan hebat yang menjadi penopang perjalanan hidupnya, yaitu ibu dan istrinya. Demikian pula di balik setiap perubahan besar dalam sejarah suatu bangsa, selalu ada peran kaum perempuan yang bekerja dengan tulus, sering kali tanpa sorotan, tetapi menghasilkan perubahan yang sangat menentukan.

Sebuah kalimat hikmah mengatakan, “Perempuan adalah tiang negara. Apabila perempuannya baik, maka akan baiklah negara. Apabila perempuannya rusak, maka akan rusak pula negara.” Kalimat ini menggambarkan betapa strategisnya posisi perempuan dalam membangun peradaban. Ketika perempuan memperoleh pendidikan yang baik, memiliki kepedulian sosial, dan tumbuh sebagai pribadi yang berakhlak mulia, sesungguhnya mereka sedang membangun masa depan bangsa.

Dalam sejarah Indonesia modern, salah satu gerakan perempuan Muslim yang berhasil membuktikan hal tersebut adalah ‘Aisyiyah. Selama lebih dari satu abad, organisasi perempuan Muhammadiyah ini konsisten bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan masyarakat. Apa yang ditanamkan oleh para pendiri ‘Aisyiyah sejak tahun 1917 kini telah menjelma menjadi warisan besar yang dirasakan manfaatnya oleh jutaan masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

Milad ke-109 ‘Aisyiyah yang diperingati pada 19 Mei 2026 mengangkat tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian.” Tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi kehidupan saat ini. Di tengah berbagai persoalan kemanusiaan, meningkatnya konflik sosial, krisis moral, kesenjangan ekonomi, hingga tantangan perkembangan teknologi, dunia membutuhkan lebih banyak gerakan yang menghadirkan kasih sayang, pendidikan, dan pemberdayaan. Sesungguhnya, inilah jalan panjang yang telah ditempuh ‘Aisyiyah sejak awal kelahirannya.

Secara resmi, ‘Aisyiyah didirikan pada 27 Rajab 1335 H atau 19 Mei 1917 M bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Namun, benih-benih gerakan ini telah tumbuh sejak tahun 1914 melalui perkumpulan Sapa Tresna, yaitu komunitas gadis-gadis muda di Kauman, Yogyakarta, yang mendapatkan pembinaan langsung dari KH. Ahmad Dahlan bersama Nyai Ahmad Dahlan, Siti Walidah.

Di tengah budaya yang saat itu masih memandang pendidikan perempuan bukan sebagai kebutuhan utama, KH. Ahmad Dahlan justru memiliki pandangan yang jauh melampaui zamannya. Beliau mendorong perempuan agar memperoleh pendidikan agama sekaligus ilmu pengetahuan umum. Dari proses pembinaan inilah lahir kader-kader perempuan yang kelak menjadi penggerak lahirnya ‘Aisyiyah.

Nama ‘Aisyiyah diambil dari Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar RA, sosok perempuan yang dikenal cerdas, berilmu, berani, serta memiliki kontribusi besar dalam perkembangan Islam. Apabila Muhammadiyah dimaknai sebagai para pengikut Nabi Muhammad SAW, maka ‘Aisyiyah dimaknai sebagai para pengikut Ibunda ‘Aisyah RA. Filosofi ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan dua kekuatan dakwah yang saling melengkapi dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Warisan terbesar yang paling nyata dari gerakan ini adalah pendidikan. Hanya dua tahun setelah berdiri, tepatnya pada tahun 1919, ‘Aisyiyah mendirikan Frobel School di Yogyakarta. Lembaga pendidikan anak usia dini tersebut kemudian berkembang menjadi TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), yang hari ini dikenal sebagai salah satu jaringan pendidikan anak usia dini terbesar di Indonesia.

Dari sebuah sekolah sederhana, kini berkembang menjadi lebih dari dua puluh ribu lembaga PAUD dan TK di seluruh Indonesia. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa perempuan mampu membangun bangsa melalui pendidikan sejak usia dini. Ketika seorang anak memperoleh pendidikan yang baik sejak kecil, sesungguhnya sedang dipersiapkan generasi yang lebih damai, lebih berilmu, dan lebih berakhlak.

Gerakan pendidikan ‘Aisyiyah tidak berhenti pada jenjang anak usia dini. Melalui Majelis Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Pauddasmen), ‘Aisyiyah mengembangkan pendidikan formal, nonformal, maupun informal. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh ‘Aisyiyah pada tahun 2025, terdapat 20.125 lembaga pendidikan anak usia dini, 4.398 sekolah dasar hingga menengah, serta 3.904 lembaga keaksaraan fungsional yang dikelola sebagai bagian dari amal usaha organisasi.

Kontribusi tersebut dilanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi melalui Majelis Pendidikan Tinggi. Hingga kini, ‘Aisyiyah memiliki sedikitnya sepuluh perguruan tinggi, termasuk Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Universitas ‘Aisyiyah Bandung, dan Universitas ‘Aisyiyah Surakarta. Kampus-kampus tersebut bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan kader-kader perempuan yang siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kekuatan lain yang dimiliki ‘Aisyiyah adalah jaringan organisasinya yang sangat luas. Dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, hingga ranting yang tersebar sampai pelosok desa dan berbagai negara, seluruh jaringan bergerak membawa semangat yang sama, yaitu menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan memberdayakan. Organisasi yang besar bukan hanya diukur dari banyaknya anggota, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Dalam hal inilah ‘Aisyiyah telah memberikan teladan selama lebih dari satu abad.

Sesungguhnya pendidikan yang dibangun ‘Aisyiyah bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah bentuk nyata dari dakwah kemanusiaan. Setiap guru yang mendidik dengan penuh kasih sayang, setiap kader yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, setiap ibu yang mendampingi tumbuh kembang keluarga, serta setiap amal usaha yang melayani masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan perdamaian.

Perdamaian tidak selalu dimulai dari ruang diplomasi atau meja perundingan. Perdamaian justru lahir dari keluarga yang harmonis, sekolah yang mendidik karakter, masyarakat yang saling menghormati, dan perempuan-perempuan yang terus menanamkan nilai kasih sayang kepada generasi berikutnya. Di sinilah makna dakwah kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling nyata.

Tulisan ini baru menyoroti salah satu warisan besar ‘Aisyiyah, yaitu pendidikan. Padahal kontribusi organisasi ini jauh lebih luas, meliputi bidang kesehatan, kesejahteraan sosial, ekonomi dan ketenagakerjaan, penelitian dan pengembangan, pembinaan kader, seni budaya dan olahraga, hingga tabligh dan tarjih. Semua bidang tersebut saling menguatkan dalam membangun masyarakat yang berkemajuan.

Dalam banyak hal, Indonesia tetap bertahan hingga hari ini bukan semata-mata karena kuatnya sistem politik atau gemilangnya prestasi para pejabat, melainkan karena masih ada masyarakat yang bekerja dengan ikhlas. Masih ada perempuan-perempuan Muslim berkemajuan yang tidak pernah lelah mengajar, mendidik, merawat, menggerakkan, dan mengabdi tanpa banyak meminta penghargaan. Di sanalah kita menemukan wajah sejati ‘Aisyiyah.

Lebih dari seratus tahun lalu, KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan tidak menunggu keadaan menjadi ideal untuk memulai perubahan. Mereka tidak menunggu negara selesai membangun sistem pendidikan. Mereka memilih bergerak. Mereka yakin bahwa pendidikan adalah investasi kemanusiaan yang hasilnya mungkin baru akan dinikmati puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.

Hari ini kita menyaksikan buah dari keyakinan itu. Puluhan ribu lembaga pendidikan, ribuan sekolah, perguruan tinggi, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat telah menjadi saksi bahwa benih yang ditanam dengan keikhlasan akan terus tumbuh melampaui usia para penanamnya.

Pada Milad ke-109 ini, tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” bukan sekadar slogan peringatan. Tema tersebut merupakan pengingat bahwa dakwah terbaik adalah dakwah yang menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Pendidikan yang mencerdaskan, pelayanan yang menguatkan, kepedulian yang mengangkat martabat masyarakat, serta keteladanan yang menginspirasi merupakan jalan panjang menuju perdamaian yang hakiki.

Zaman boleh berganti. Tantangan boleh berubah. Nama-nama boleh saja terlupakan. Namun jejak warisan pendidikan dan dakwah kemanusiaan yang telah ditinggalkan oleh perempuan-perempuan Muslim berkemajuan dalam wadah Perkumpulan ‘Aisyiyah akan terus hidup, mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semoga pada usia ke-109 ini, ‘Aisyiyah semakin kokoh dalam menghadirkan dakwah kemanusiaan, semakin luas menebarkan manfaat, dan semakin nyata mewujudkan perdamaian bagi Indonesia dan dunia.


Bagikan Juga Ke