Dakwah Kultural Muhammadiyah Jadi Strategi KMM Blimbing Hadirkan Islam yang Mencerahkan

c05ec12e-af94-47fa-938c-7d8a2e7f7c63
Bagikan Juga Ke

SUKOHARJO — Dakwah kultural menjadi salah satu strategi penting bagi mubaligh Muhammadiyah agar nilai-nilai Islam hadir secara lebih dekat, bijak, dan relevan dalam kehidupan masyarakat. Gagasan tersebut menjadi fokus pembekalan Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Blimbing yang berlangsung di Masjid Barokah, Ranting Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Kamis (3/9/2026) malam.

Pembekalan bertema “Strategi Dakwah Kultural Muhammadiyah” itu menghadirkan Ustadz Dr. Sri Lahir, M.Pd., Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal PDM Sukoharjo. Kegiatan berlangsung setelah rangkaian aktivitas dakwah para anggota KMM yang sebelumnya mengisi kajian di 130 masjid se-Kecamatan Polokarto.

Ratusan anggota KMM turut hadir dalam kegiatan tersebut. Selain menjadi forum penguatan kapasitas mubaligh, pembekalan juga menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman tentang cara berdakwah yang tetap berpegang pada prinsip Islam sekaligus mampu menyentuh realitas budaya masyarakat.

Dakwah Bukan Sekadar Berbicara di Mimbar

Dalam materi pembekalan, Sri Lahir menekankan bahwa dakwah tidak berhenti pada aktivitas menyampaikan ceramah. Menurut materi yang disampaikan, dakwah seharusnya mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Dakwah bukan hanya bagaimana kita mengubah cara orang berbicara tentang Islam, tetapi bagaimana Islam mengubah cara manusia menjalani kehidupan,” ungkapnya.

Materi tersebut merujuk pada QS Fussilat ayat 33 yang mengaitkan aktivitas menyeru kepada Allah dengan amal saleh. Karena itu, seorang mubaligh tidak cukup hanya menguasai dalil, tetapi juga perlu melihat dampak dakwah terhadap kehidupan masyarakat.

Pertanyaan penting yang ditekankan kepada KMM ialah, “Setelah masyarakat mendengar dakwah kita, apa yang berubah dalam kehidupan mereka?” Ukurannya antara lain meningkatnya kedekatan kepada Allah, kerukunan dengan tetangga, kepedulian kepada fakir miskin, kecintaan anak-anak kepada masjid, hingga semakin kuatnya ekonomi umat.

Memahami Budaya, Bukan Menyeragamkan

Dakwah kultural dalam materi pembekalan dipahami sebagai upaya menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai dimensi kehidupan dengan memperhatikan potensi, kecenderungan, serta kultur masyarakat setempat.

Pendekatan ini tidak berarti mencampuradukkan akidah dengan budaya. Sebaliknya, Islam tetap menjadi dasar dan arah, sedangkan budaya yang baik dapat menjadi media dakwah. Sementara itu, budaya yang bertentangan dengan tauhid dan syariat perlu diluruskan dengan cara yang bijak.

Karena itu, dakwah kultural tidak diarahkan untuk menyeragamkan budaya masyarakat. Materi pembekalan menegaskan bahwa keragaman budaya, bahasa, dan adat merupakan bagian dari sunnatullah. Dakwah justru diharapkan mampu mewarnai keragaman tersebut dengan nilai-nilai tauhid.

Tiga Pendekatan Menghadapi Tradisi Lokal

Dalam menyikapi budaya lokal, materi pembekalan memperkenalkan tiga pendekatan, yakni akomodasi, rasionalisasi, dan demistifikasi.

Akomodasi dilakukan ketika suatu budaya memiliki nilai baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Sementara itu, rasionalisasi diarahkan untuk mengubah tradisi yang irasional atau sekadar ikut-ikutan menjadi kegiatan yang masuk akal dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Adapun demistifikasi bertujuan membersihkan penyimpangan seperti takhayul, bid’ah, dan khurafat yang melekat pada tradisi tertentu. Namun, proses tersebut dilakukan melalui edukasi yang simpatik dan logis, bukan dengan cacian.

Pendekatan tersebut kemudian diringkas melalui formula 3-M, yaitu mendekati, memurnikan, dan mencerahkan. Mubaligh didorong untuk mendekati struktur sosial masyarakat, memurnikan substansi tanpa harus membubarkan wadah budaya, serta memberikan solusi ketika menemukan tradisi yang perlu diluruskan.

Dari Mimbar hingga Ruang Digital

Dakwah kultural juga memiliki ruang implementasi yang luas. Materi pembekalan menyebut dakwah komunitas dan lingkungan, dakwah seni-budaya, dakwah institusional melalui amal usaha, hingga dakwah virtual dan pop culture.

Pendekatan digital, misalnya, dapat dilakukan melalui siniar, video pendek, meme edukatif, maupun tulisan populer. Tujuannya menjangkau masyarakat urban dan generasi digital dengan format dakwah yang lebih dekat dengan kebiasaan mereka.

Dengan demikian, dakwah kultural menempatkan mubaligh bukan hanya sebagai penyampai pesan agama, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ikut mencari solusi atas persoalan kehidupan.

Berakhir dengan Doorprize

Setelah pembekalan berlangsung hingga selesai salat Isya, kegiatan KMM Cabang Blimbing ditutup dengan pembagian doorprize kepada peserta. Momen tersebut menjadi penutup yang lebih santai setelah para anggota mengikuti penguatan materi dakwah.

Bagi KMM Cabang Blimbing, pembekalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran mubaligh setelah menjalankan aktivitas dakwah di berbagai masjid di Kecamatan Polokarto. Pesan utamanya jelas: dakwah kultural Muhammadiyah perlu hadir dengan hikmah, keteladanan, budaya yang bernilai, serta solusi nyata agar Islam semakin mencerahkan dan memajukan kehidupan.


Bagikan Juga Ke