Oleh: Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd.
Anggota Majelis Tabligh dan KMM PCM Blimbing Daerah Sukoharjo
KHUTBAH JUMAT PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal terbaik untuk meraih kehidupan yang mulia di dunia dan keselamatan di akhirat.
Pada khutbah Jumat kali ini, marilah kita bersama-sama mentadabburi firman Allah ﷻ dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103, yang memberikan pesan penting tentang persatuan umat Islam dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
Allah ﷻ berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara; dan kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Persatuan Umat Islam Adalah Perintah Allah
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa persatuan bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan perintah Allah ﷻ. Ayat ini juga mengingatkan bagaimana masyarakat Madinah yang sebelumnya diliputi permusuhan dapat dipersatukan oleh Islam.
Suku Aus dan Khazraj pernah terlibat dalam peperangan dan permusuhan yang berlangsung bertahun-tahun. Dendam bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, ketika Islam datang, Allah ﷻ mempersatukan hati mereka dan menjadikan mereka bersaudara.
Hal ini menunjukkan bahwa ukhuwah Islamiyah yang sejati dibangun di atas iman dan ketaatan kepada Allah, bukan semata-mata karena kesamaan suku, organisasi, kelompok, maupun kepentingan dunia.
1. Berpegang Teguh kepada Al-Qur’an dan Agama Allah
Allah ﷻ berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah.”
Imam Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa hablullah berkaitan dengan Al-Qur’an dan agama Allah ﷻ. Dengan demikian, persatuan yang diperintahkan Islam bukanlah persatuan dalam kesalahan, tetapi persatuan di atas kebenaran.
Umat Islam akan menjadi kuat apabila kembali berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang lurus. Sebaliknya, apabila setiap orang lebih mengutamakan hawa nafsu, fanatisme golongan, dan ego pribadi, maka perpecahan akan semakin mudah terjadi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا… وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga perkara… yaitu agar kalian berpegang teguh kepada tali Allah semuanya dan tidak bercerai-berai.”
(HR. Muslim)
2. Persatuan Dimulai dari Hati
Allah ﷻ berfirman:
فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ
“Lalu Allah mempersatukan hatimu.”
Perhatikanlah, yang dipersatukan oleh Allah ﷻ bukan hanya barisan atau tempat berkumpul, tetapi hati manusia.
Bisa jadi seseorang duduk bersama dalam satu masjid, berada dalam satu lembaga, bahkan hidup dalam satu keluarga, tetapi hatinya saling berjauhan.
Karena itu, penyakit hati seperti hasad, suudzan, ghibah, dendam, dan kebencian harus kita jauhi karena dapat menjadi racun yang merusak ukhuwah Islamiyah.
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
الدِّينُ لَمْ يَزَلْ بَيْنَ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ
“Agama ini akan tetap berada di antara orang yang berlebihan dan orang yang meremehkannya.”
Karena itu, menjaga persatuan membutuhkan sikap adil, lembut, saling menghormati, dan membiasakan diri untuk saling memaafkan.
3. Mensyukuri Nikmat Persaudaraan
Allah ﷻ berfirman:
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu.”
Sering kali kita lupa bahwa dapat melaksanakan shalat bersama, belajar bersama, berdakwah bersama, dan hidup dalam suasana rukun merupakan nikmat Allah yang sangat besar.
Banyak keluarga hancur karena pertengkaran. Banyak masyarakat rusak akibat permusuhan. Tidak sedikit pula persaudaraan yang terputus hanya karena masalah kecil yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan komunikasi dan saling memaafkan.
Oleh karena itu, menjaga persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah merupakan bagian dari menjaga nikmat Allah ﷻ.
Jangan Biarkan Perbedaan Menjadi Sebab Perpecahan
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Jangan sampai perbedaan kecil menjadi semakin besar hingga memutus tali persaudaraan.
Dalam persoalan ijtihadiyyah, para ulama terkadang memiliki perbedaan pendapat. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk saling menghormati.
Imam Asy-Syafi’i رحمه الله pernah berkata:
رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
“Pendapatku benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar.”
Pernyataan ini menggambarkan keluasan hati dan kerendahan hati para ulama dalam menghadapi perbedaan.
Maka, marilah kita belajar untuk berbeda tanpa saling membenci, berdiskusi tanpa saling merendahkan, serta mengutamakan persaudaraan di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Semoga Allah ﷻ mempersatukan hati kita di atas iman, Islam, dan ketakwaan.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH JUMAT KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita kembali meneguhkan pesan penting dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103, khususnya tentang kewajiban menjaga persatuan dan ukhuwah Islamiyah.
Allah ﷻ menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:
لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Agar kalian mendapat petunjuk.”
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa persatuan di atas kebenaran merupakan salah satu jalan menuju hidayah Allah. Sebaliknya, perpecahan yang lahir dari hawa nafsu dapat menjauhkan manusia dari petunjuk.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk menjaga persatuan umat?
- Memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ melalui shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan berbagai amal saleh.
- Menjaga lisan dari ghibah, fitnah, caci maki, dan ucapan yang dapat memecah belah persaudaraan.
- Mendoakan saudara sesama Muslim, baik ketika bertemu maupun ketika berjauhan.
- Mendahulukan kepentingan umat daripada ego dan kepentingan pribadi.
- Mendidik keluarga dengan akhlak mulia, sikap saling menghormati, dan semangat persaudaraan.
- Menyikapi perbedaan dengan bijaksana, selama perbedaan tersebut masih berada dalam ruang yang dibenarkan syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, janganlah kita menjadi sebab retaknya bangunan umat. Jadilah orang yang memperkuat persaudaraan, menjaga ukhuwah, dan menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.
Doa
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُعْتَصِمِينَ بِكِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَاجْعَلْنَا إِخْوَانًا مُتَحَابِّينَ فِيكَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.